Bahayanya Kurang Minum dan Telat Makan


Beberapa bulan terakhir ini, terdapat dua kasus berharga yang dialami keluarga saya, akibat kurang minum dan telat makan. Dua-duanya akhirnya masuk rumah sakit.
 

Yang pertama adalah adik saya. Kejadiannya saat bulan puasa Ramadhan. Sehabis sahur, tiba-tiba ia merasakan sakit yang tak kepalang di bagian pingangnya. Sakitnya sungguh tak tertahan. Karena tak tahan, ia pun segera minta ke rumah sakit.

Rasa sakit yang luar biasa, membuat kami semua berpikir yang macam-macam. Pasalnya, jikalau sakit itu datang, ia sampai berteriak-teriak keras. Di rumah sakit
, dokter hanya menyarankan ia minum air putih sebanyak-banyaknya. Ketika saya tanya, rupanya karena kesibukan kerja, sampai ia lupa dan kemudian mengabaikan kebutuhan untuk minum. Bahkan, sahur pun juga ketinggalan. Dan hal itu terjadi berulang kali.

Sementara yang kedua adalah bibi saya. Kasusnya ternyata sama, kurang minum dan telat makan yang akut. Artinya, lupa makan teratur dan kebiasaan mengabaikan perlunya minum, menjadikannya jatuh sakit. Ia kini menunggu operasi di salah satu RSU di Surabaya.

Untungnya, adik saya segera sembuh. Rupanya, kejadian itu hanyalah sinyal awal. Jadi, tidak begitu parah. Hanya perlu lebih banyak minum, makan teratur, dan menggiatkan olah raga saja supaya pulih. Sementara bibi saya, karena sudah berlangsung lama kebiasaan telat makan dan minumnya, ginjal dan lambungnya pun kena.

Tapi saya berharap, setelah perawatan panjang di rumah sakit, kesehatannya semoga saja bisa pulih kembali. Dan, tidak perlu sampai operasi. Apalagi, saya lihat kesehatannya pelan-pelan kembali pulih.

Dalam Penelitian MeDIS
Dua kejadian tersebut membuat saya mencari jawabannya. Walau sebenarnya, sudah punya sedikit pengetahuan tentangnya. Tetapi agar menambah kesadaran dan kemantapan pentingnya minum dan makan teratur, saya mencoba mencari solusinya.

Dalam situs kesehatan  Online Detiknews,Detiknews Profesor Hiromi Shinya MD, pakar enzim yang juga guru besar kedokteran di Albert Einstein College of Medicine AS, usahakan tubuh untuk mendapatkan pasokan air 6-8 gelas per hari (1,5-2 liter) untuk orang dewasa.

Ini adalah dampak jika kekurangan minum menurut sang profesor
 1. Ketika pasokan air minim tubuh akan mengalami kekurangan air atau dehidrasi. Dehidrasi ini menyebabkan cairan di otak akan menurun, asupan oksigen yang harusnya mengalir ke otak pun berkurang. Akibatnya, sel-sel otak menjadi tidak aktif dan berkembang, bahkan bisa menciut.

2. Komposisi otak terdiri atas cairan, dan ketika otak tidak mendapatkan asupan air yang cukup akan terjadi gangguan fungsi kognitif (kepandaian) di otak. Otak tidak bisa menjalankan fungsi normalnya lagi, terutama fungsi kognitif yaang akhirnya membuat seseorang menjadi lemot, gampang lupa, dan tidak konsentrasi.

3. Dehidrasi yang dialami tubuh bisa menyebabkan gejala mulai dari yang ringan dan sedang seperti lelah, haus, tenggorokan kering, badan panas, sakit kepala, air kencing pekat, denyut nadi cepat, hingga gejala berat seperti halusinasi dan kematian.

4. Rentan terkena infeksi kandung kemih karena bakteri tidak bisa keluar akibat kurang minum. Gejala infeksi kandung kemih ini bisa berupa suhu badan yang sedikit meningkat, rasa nyeri terutama saat akhir buang air kecil, perasaan ingin buang air kecil yang tidak dapat ditahan, nyeri tekan di atas tulang kemaluan. Kadang kala terdapat darah dalam urine.

5. Perempuan harus lebih banyak mengonsumsi air karena panjang saluran kemihnya lebih pendek dibanding laki-laki. Banyak minum air akan membantu bakteri keluar dari saluran kemih dan mengurangi risiko infeksi kandung kemih.

6. Kulit jadi kusam karena kurang minum membuat aliran darah kapiler di kulit juga tidak maksimal.

7. Kurang minum air putih bisa mengganggu fungsi ginjal karenanya air penting untuk mencegah batu ginjal. Dengan cukup air maka komponen pembentuk batu ginjal menjadi lebih mudah luruh bersama buang air kecil. []